Home Motivasi 4 Pelajaran yang Bisa Diambil Dari Afi Nihaya Faradisa

4 Pelajaran yang Bisa Diambil Dari Afi Nihaya Faradisa

7 min read
0
3
afi nihaya faradisa

Remaja putri asal Banyuwangi itu viral. Bukan cuma di internet, wajahnya menghiasi beragam talkshow, baik di lingkungan kampus serta layar televisi. Ya, Asa Firda Nihayah, atau lebih familiar dengan nama bekennya Afi Nihaya Faradisa, memang sedang menjadi buah bibir di mana-mana. Sebab ia berbeda, dimana saat gadis seusianya sedang sibuk ber-selfie ria dan menghabiskan jatah kuota internet dari orang tuanya.

Afi memang mengagetkan banyak orang. Di usianya yang masih muda, ia punya pikiran yang tak banyak dimiliki oleh anak seusianya. Dan yang lebih mengagetkan adalah, orang-orang yang lebih tua darinya boleh jadi belum punya pemikiran sejauh apa yang sering diutarakan Afi. Pikirannya genuine, lepas, dan mengalir dengan baik. Terlepas dari beragam kontroversi yang menyertainya, ada beberapa hal menarik yang mesti diambil jadi pelajaran dari fenomena Afi ini. Apa saja?

Mampu Melepaskan diri dari candu gadget

Afi pernah melakukan eksperimen untuk melepaskan diri dari gadget. Ia melakukannya selama sepuluh hari. Tujuannya baik, ia ingin merenung dan mengasingkan diri dari dunia yang terkoneksi. Dan ia pun mendapatkan hasilnya.

Gadis calon mahasiswi ini mendapatkan pelajaran berarti soal apa yang kita sebut saat ini sebagai detoksifikasi digital. Sebab dunia gadget merupakan dunia yang tanpa batas. Dimana, menurut bahasanya, adalah dunia yang tak punya yurisdiksi. Orang-orang bebas berbicara, sehingga mengeliminir kebenaran yang sesungguhnya.

Afi memang menohok, sekaligus tajam dalam menulis. Ini bermula dari pemikiran-pemikiran anak sesusianya yang cukup sederhana. Dan soal gadget ini, adalah eksperimen sosialnya yang cukup berani. Hal ini mengingat betapa gadget telah menjadi candu, dan darah setiap pecandunya telah kotor sehingga perlu sering dilakukan detoksifikasi semacam ini. Kamu bisa?

Menjadikan Media Sosial Positif Kembali

Mungkin kamu yang selama ini mengalami kecanduan dalam menyebarkan hoax dan kebencian, sepatutnya bisa meniru Afi agar meninggalkan gadget. Afi serasa mengembalikan media sosial ke khittahnya sebagai sarana berbagi informasi, bukan ajang curhat pribadi. Dengan tulisan-tulisan segarnya, Afi menjadi sumber inspirasi bagaimana menjadikan media sosial sebagai tempat yang bermanfaat, bukan medan perang yang menjemukan.

Tak Selamanya Dewasa Sebelum Waktunya Itu Tak Baik

Banyak yang bilang Afi sudah dewasa melampaui usianya. Tentu ini berbicara soal pikiran-pikirannya yang melampaui batas usia. Dimana banyak dari anak-anak seusianya masih disibukkan dengan hal-hal remeh yang jauh untuk urusan lingkungan sosial yang lebih besar.

Jika banyak orang tua yang khawatir anaknya terjerumus pada ‘dewasa sebelum waktunya’, maka tak begitu dengan orang tua Afi. Sebab, Afi memang dewasa sebelum waktunya. Dan hal tersebut cukup positif.

Terbuka Terhadap Beragam Perbedaan Pemikiran

Terlepas dari pro-kontra pikirannya, fenomena Afi ini bisa diteladani. Jika kamu tak setuju dengan pemikirannya, tiru saja bagaimana cara dia berpikir. Ia terbuka terhadap berbagai pemikiran. Saat ia menemukan pemikiran yang tak setuju, ia menyimaknya dengan baik. Ini terbukti dengan aksi saling sindir dengan Gilang Gazuya. Keduanya saling menuliskan kritik terhadap pemikiran masing-masing.

Namun untuk orang-orang yang memang tak bisa berbeda pendapat kemudian berlaku kasar secara verbal, Afi langsung memblokirnya dari jejaring sosial. Tindakan ini tak bisa jadi bukti kalau Afi anti-keragaman.

Menghargai Hasil Pemikiran Orang Lain (update)

Afi memang cerdas dan pintar, terbukti ketika ia mampu menjawab beragam pertanyaan di beragam talkshow yang mengundangnya sebagai pembicara. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak juga diraih, nama Afi saat ini tercemar.

Sebab diduga beberapa tulisannya tidak orisinal. Ia diklaim mencontek utuh sebuah tulisan dari seorang penulis yang usianya terpaut jauh diatasnya. Kini akun Facebook Afi pun tak bisa diakses, mungkin berupaya menghindar dari bully yang pasti akan terhujam padanya.

Atas peristiwa ini, semestinya kita pun bisa menghargai hasil pikir orang lain. Jika ia berupa tulisan di buku, kutiplah nama dan judul bukunya. Jika tulisannya berada di tautan, status Facebook, maupun sebuah forum dunia maya, berikan kredit yang sepadan. Sebab berpikir itu membutuhkan biaya dan waktu. Kita mesti menghargainya.

Akhirnya…

Meski dihujani kontroversi anak seperti Afi sudah cukup bagus. Ia memahami banyak hal tentang keragaman, meski sepertinya pada bagian tertentu masih terkesan belum tuntas. Analisanya soal Agama di tulisanya ‘warisan’ memang paling banyak mendulang kritik. Tapi pemahamannya terhadap keberagaman membuatnya mampu menuliskan narasi yang cukup panjang dan menginspirasi banyak orang. Dan itu tak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang memahami akan adanya keanekaragaman dunia ini.

Load More Related Articles
Load More By Admin
Load More In Motivasi

Leave a Reply

Check Also

Daripada Dilahap ‘Buaya Darat’, Mending Baca Ini Baik-Baik

Seringkali pikiran tentang cinta mengalahkan logika yang sebenarnya telah dibangun jauh-ja…