Belajar Memaknai Hidup Dari Resolusi Pemilik Facebook

0
19
views
mark zuckerberg
Kesuksesan Mark adalah komitmen dan konsisten dalam membuat resolusi-resolusi.

“Setiap tahun, saya menantang diri sendiri untuk belajar hal-hal yang baru dan mengembangkan diri saya diluar Facebook.”

Begitulah tulis Mark Zuckerberg dalam sebuah status Facebook-nya. Ia senantiasa menantang dirinya sendiri untuk berbuat lebih besar dan menjangkau banyak orang secara lebih luas dan bermakna. Tahun 2016 kemarin, ia menyebutnya sebagai tahun yang menarik, atau dalam bahasanya sebagai ‘tumultuous’. Dan tahun ini, ia ingin bertemu dengan lebih banyak orang di setiap negara bagian di Amerika Serikat.

Meski telah melesatkan Facebook dengan begitu kencang sejak 2004 silam, Mark Zuckerberg masih menjadi sosok yang punya mimpi besar. Sebagai salah satu visioner di bidang teknologi, tentu saja menarik untuk menyimak setiap ujaran-ujarannya, mengenai capaian-capaian apa yang akan ditapakinya. Dan setiap tahun, kala hampir semua orang memanjatkan resolusi agar lebih baik lagi, begitu juga dengan suami dari Priscilla Chan ini.

Dari Mark, kita banyak belajar tentang bagaimana memaknai kehidupan. Ia yang dikenal sebagai sosok sederhana, tidak tergerus oleh gelombang tren, senantiasa mencetuskan ujaran-ujaran yang bisa menjadi refleksi untuk hidup yang lebih baik.

Menemukan cara-cara yang unik untuk memotivasi rekan kerja maupun bawahan

Saat 2009, Mark memutuskan untuk mengganti gayanya memakai kaos abu-abu dengan setelan berdasi. Saat itu, dunia masih terimbas dampak resesi yang terjadi pada tahun 2008. Masa itu banyak perusahaan yang terpaksa memangkas karyawannya. Facebook pun terpengaruh. Namun Mark berupaya memotivasi para karyawannya dengan cara memakai dasi itu. Ia mengungkap bahwa dasi itu simbol bahwa betapa serius dan pentingnya tahun tersebut. Dan kita pun tahu Facebook tak terpengaruh oleh badai resesi itu.

Berupaya meningkatkan kadar intelektualitas

Mark Zuckerberg terlahir di Amerika Serikat, namun ia menantang dirinya sendiri untuk mempelajari Bahasa Mandarin. Setidaknya ini yang terlihat dari postingannya di tahun 2010. Hasilnya? Lima tahun kemudian, atau tahun 2015, Mark sudah mampu melakukan sesi tanya jawab di Universitas Tsinghua Beijing dengan memakai bahasa mandarin.

Belajar berkorban

Pada tahun 2011, Mark pernah menjadi vegetarian. Namun bukan berarti ia tak mau memakan daging, hanya saja ini dilakukannya untuk tujuan tertentu. Ia hanya mau memakan daging apabila sumber daging tersebut merupakan hasil buruan dan diolah oleh tangannya sendiri. Kata Mark, ini berguna agar ia lebih berterima kasih atas apa yang selama ini dinikmatinya.

Memperhatikan hal-hal yang kecil dan detail

Sebagai seorang pucuk pimpinan perusahaan teknologi besar dunia, Mark memang tidak semestinya melakukan hal-hal yang remeh-temeh. Namun menurut Business Insider, pada tahun 2012 Mark telah menantang dirinya sendiri untuk melakukan coding agar komunikasinya dengan para karyawannya berjalan dengan baik. Dan kita bisa tengok hasilnya di Facebook Workplace.

Temuilah setidaknya satu orang saja setiap harinya

Jangan biarkan tembok kantor menjadi penghalangmu untuk berinteraksi. Dalam sehari, antara jam 9 pagi hingga jam 5 sore, temuilah siapapun orang-orang di sekitar kamu.

Mark menjadikan hal tersebut sebagai resolusi pada tahun 2013. Sebagaimana dimuat di Fortune, cara ini menjadikannya mampu memiliki pandangan yang luas.

Senantiasa Mempraktikan Sopan Santun Dengan Benar

Pada tahun 2014, Mark juga pernah menantang dirinya untuk mempraktekkan keramahan secara langsung. Ia berupaya membiasakannya dengan memberikan ‘ucapan terima kasih’ pada orang-orang yang berkomunikasi dengannya setiap hari. Tak cuma sekedar basa-basi ‘thanks’ dalam percakapan digital, namun Mark pun memberikannya lewat kalimat ‘terima kasih’ dengan tulisan tangannya sendiri. Ini ekspresif, sekaligus otentik, kata Mark.

Educate yourself,” kata Mark

Menjadi orang berbudaya tak perlu dengan melancong keliling dunia. Meski dengan cara itu pun bisa, namun ada cara lain yang lebih praktis dan murah. Pada tahun 2015, Zuckerberg menantang dirinya untuk membaca buku setiap minggu. Buku-buku yang dibacanya lintas ilmu, mulai dari kebudayaan, keagamaan, sejarah, dan tentu saja teknologi. Kata Mark, buku masih tetap menjadi sumber yang baik untuk menjelajahi topik bahasan secara mendalam dibanding media apapun saat ini. Ya, termasuk media sosial ciptaannya.

Teknologi Harus Dibuat Untuk Memudahkan Kehidupan Manusia

Pada awal 2016, Mark mencanangkan tahun tersebut sebagai tahun penemuan. Dan akhir tahun 2016, Mark telah mengenalkan ‘Jarvis’. Ini memang terinspirasi dari kecerdasan buatan yang dikreasikan oleh Tony Stark dalam film Iron Man tersebut. Namun Mark berpikir sederhana. Alih-alih menciptakan senjata tempur, ia memanfaatkan Jarvis untuk membantunya dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Ya, memang apalah guna teknologi jika dibuat untuk menindas.

Itulah resolusi-resolusi inspiratif yang sebaiknya kita tiru dari pesohor teknologi semacam Mark Zuckerberg. Sulit memang, tapi meski tak menjadi CEO Facebook, kita pun melakukannya dalam skala yang lebih kecil.