Meski Kehidupan Memberi Kepahitan, Tapi Merelakan harus Jadi Pelajaran

0
belajar merelakan
Merelakan memang tak mudah, sebab setiap goresan selalu menyisa luka

Dalam hidup ini, ada rasa manis dan asam yang setiap saat senantiasa dikecap. Bahkan tak sedikit pula rasa pahit menyelinap. Karena saat-saat manis sedang dirasa, kenangan akan seseorang kadang menggugah kepahitan dalam angan. Orang bilang karena tak rela. Benarkah?

Sebenarnya setiap perasaan merupakan sebuah kemampuan. Dan tentu saja pada akhirnya, ia mampu dipelajari. Pelan namun pasti, sebuah kerelaan dalam setiap jalan kehidupan senantiasa harus dilewati. Dan kemampuan untuk merelakan inilah yang menentukan apakah rasa pahit itu akan menjadi abadi atau fana dalam kenangan kita?

Ketika kita kehilangan seseorang, atau tak mampu menggapai impian, maka jika kita memilih menyerah maka pilihan yang memungkinkan adalah membiarkan diri didera frustasi. Hidup jadi tak semangat. Ada yang berujung di rumah sakit, bahkan tak sedikit yang bermuara di alam baka.

Merelakan tentu berbeda jauh dengan menyerah

Orang-orang semacam itu lebih memilih menyerah. Maka pilihan yang mesti diambil adalah belajar merelakan. Ya, belajar.

Rasa pahit adalah sungai

Bayangkan bahwa sebuah rasa pahit dalam hidup adalah sebuah sungai. Maka yang kita butuhkan bukanlah tangisan yang membuat airnya bertambah banyak. Kita butuh jembatan untuk melewatinya. Bangunlah jembatan dengan pondasi yang bagus, bukan jembatan semi permanen yang mudah roboh. Pelarian dari rasa pahit ini mesti benar-benar dibangun secara baik, sehingga hasilnya pun menumbuhkan rasa yang manis.

Lupakan apa saja yang menyakiti

Ya, merelakan adalah satu bagian dari melupakan. Namun bukan berarti kita mesti melupakannya secara total. Setiap peristiwa yang diberikan oleh Tuhan senantiasa menyimpan pelajaran. Lupakan masalahnya, ambil pelajarannya sebagai bekal kehidupan.

Tak selamanya pencarian jati diri berujung pada jawaban siapa kita sebenarnya

Ada satu masa dimana kita menggebu-gebu untuk menemukan siapa diri kita. Namun banyak dari pencarian itu justru berujung pada ketidakpuasan atas hasil yang dicapai. Maka merelakan adalah satu-satunya jalan yang terbaik. Tapi tentu saja kita tak boleh menyerah untuk tetap menggapai prestasi-prestasi dalam kehidupan. Sebab dalam merelakan siapa kita, kadang kita mendapati diri kita yang sebenarnya. Pun ketika kita merelakan apa yang kita miliki, boleh jadi Tuhan menyediakan apa yang kita butuhkan.

Merelakan seseorang berarti memahami bahwa ia adalah bagian dari sejarah, bukan bagian dari jalan hidup yang terus dijalani

Setiap peristiwa pahit yang melibatkan seseorang, memungkinkan kita mencatatnya sebagai bagian dari jalan hidup kita. Padahal yang namanya jalan hidup akan terus dijalani sampai kapanpun. Adapun jalan hidup memiliki beberapa bagian, yakni sejarah, sekarang, dan masa depan. Maka rasa pahit bersama seseorang harus dimasukkan kedalam bagian dari sejarah, bukan sekarang apalagi masa depan.

Dalam prosesnya, merelakan berarti membiarkan kita mengalami amnesia kecil, namun akan dihargai dengan sebuah jawaban yang menyenangkan

Sudah disinggung di awal, bahwa merelakan berkaitan erat dengan proses melupakan. Maka dalam prosesnya kita bakal banyak mengalami kehilangan akan masa lalu. Karena masa lalu yang pahit itu, kadang berisi juga hal-hal yang manis nan menyenangkan. Oleh karenanya, kesiapan kita untuk kehilangan masa lalu itu harus dikuatkan sejak awal agar belajar merelakan sukses dan membuahkan hasil, yakni pertemuan dengan siapa kita sekarang dan jalan hidup yang kelak dijalani.