Home Hubungan Kebahagiaan Hubungan Kamu Tak Pernah Bisa Diukur dari Sebuah Postingan Media Sosial

Kebahagiaan Hubungan Kamu Tak Pernah Bisa Diukur dari Sebuah Postingan Media Sosial

6 min read
0
0
hubungan-dan-media-sosial

Media sosial bagai obat. Sialnya obat ini memiliki candu yang tinggi. Siapapun bisa terkena candunya, sehingga ponselnya akan selalu terisi dengan aplikasi media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Dan tentu saja tak berhenti disitu, sebab keinginan untuk terus mengunggah konten-konten tentang pribadi akan selalu muncul, termasuk konten tentang hubungan kamu dengan si dia.

Hubungan kamu seolah share-able. Semua orang sepertinya wajib mengetahui betapa kamu berbahagia saat jalan bersamanya. Semua teman di media sosial kamu seolah wajib memahami kalau kamu senang sekali menyaksikan film di bioskop itu, berlibur di sebuah tempat, makan di sebuah restoran, dan apapun saja aktivitas kamu bersamanya. Semuanya kamu unggah seolah-olah media sosial adalah sarana wajib untuk mengabsahkan bahwa kamu dan dia adalah pasangan yang serasi. Ya, bagi kamu dan dia, media sosial adalah tempat pengabsahan sebuah hubungan.

Pengabsahan sebenarnya lahir dari teman di dunia nyata

Kamu boleh mengunggah sebanyak apapun foto di Instagram, status di Facebook, dan kicauan di Twitter tentang hubungan kamu dengannya. Namun semakin banyak kamu mengunggahnya, secara nggak langsung kamu sedang menciptakan sebuah ilusi tentang sebuah kondisi hubungan. Sebab pada kenyataannya, tidak selamanya sebuah hubungan itu akan senantiasa harmonis.

Katakanlah kamu jujur dengan postingan kamu, misalnya ketika kamu bertengkar, lantas meluncur kata-kata pedasmu kepadanya di media sosial. Lalu, siapa yang peduli setelah semua kalimat romantis, pujian, dan segala macam kemesraan yang sebelumnya diumbar? Orang-orang mungkin malah bersyukur, sebagian lagi pun bahkan tak peduli sama sekali. Mengapa bisa terjadi hal yang demikian?

Karena kamu mecari pengabsahan akan hubungan di tempat yang salah. Pengabsahan sebenarnya berada pada teman-teman kamu di dunia nyata, baik teman di lingkungan rumah, kantor, kuliah, dan lainnya. Sebab dengan merekalah kamu dan pasanganmu berinteraksi secara nyata.

Media sosial menyita interaksi

dinner-with-gadget

Kamu yang sibuk bermedia sosial mungkin tak sadar akan sebuah fenomena aneh. Coba saja perhatikan ketika kamu dan pasanganmu berada di sebuah tempat, katakanlah tempat makan. Disana sering tampak sepasang muda-mudi seperti kamu memegang gawai masing-masing dan berinteraksi dengannya. Padahal masing-masing dari mereka datang berpasangan.

Ketika makanan belum datang, mereka asik dengan ponselnya. Seiring pramusaji membawa baki makanan dan meletakkannya di meja, kamu ikut-ikutan sibuk mengaturnya. Bukan, bukan sedang membantu sang pramusaji. Namun kamu bersiap-siap mengambil sudut pandang terbaik demi menghasilkan gambar yang indah untuk diunggah di instagram. Dan konyolnya, kamu memberi caption dengan kalimat, “Lovely dinner with my love“. Ehm, lovely? Ironi.

Biarkan hubungan kamu dan dia hanya urusan kalian berdua

Satu-satunya hal yang hilang ketika sebuah hubungan diumbar di media sosial adalah privasi. Ya, kamu sudah kehilangan privasi ketika mengunggahnya di media sosial. Bahkan bukan cuma kehilangan privasi, kamu sedang membuka pintu gerbang bagi siapapun untuk masuk ke dalam kehidupan pribadi kamu, terutama pada hubungan kamu ini.

Ini cukup berbahaya. Sebab tidak semua orang punya jiwa malaikat yang senantiasa menebar kebaikan pada laku dan katanya. Ada sosok yang mirip Lambe Turah yang akan mengorek semua sisi tentang kamu dan juga dengannya. Ia bakal mengulik status kamu, foto, unggahan apapun di media sosial itu, dan menggorengnya untuk menemukan angle berita yang cukup menjadikannya sebagai kategori aib. Dan statusnya akan penuh dengan kata-kata sindiran yang meski tak tertuju langsung, kamu akan panas membacanya.

Pada akhirnya kamu dan dia tak jadi bahagia

Media sosial itu candu. Dimana-mana tak ada yang namanya candu itu baik. Ia terus menerus dilakukan, namun tanpa disertai dengan kesadaran. Kamu terus menerus mengunggah soal hubungan kamu dengannya, menceritakan betapa bahagianya kamu padahal pada kenyataannya tidak selamanya demikian. Kamu selalu menciptakan ilusi, yang dibentuk di media sosial kamu.

Dan ada satu titik dimana banyak para psikolog menyebutkan kalau semakin banyak kamu berharap orang lain mengakui kalau kamu merasa bahagia dengan hubungan tersebut, maka kamu sebenarnya semakin tidak bahagia. Sebab realitas yang diciptakan di media sosial, sering tampak kebalikannya ketika dihadapkan pada dunia nyata. Apakah kamu seperti itu juga?

Load More Related Articles
Load More By Admin
Load More In Hubungan

Leave a Reply

Check Also

Daripada Dilahap ‘Buaya Darat’, Mending Baca Ini Baik-Baik

Seringkali pikiran tentang cinta mengalahkan logika yang sebenarnya telah dibangun jauh-ja…