7 Jenis Teman Yang Bisa Membuat Hidupmu Berantakan

0
7 Jenis Teman Yang Patut Kamu Hindari
Ada teman yang perlu dibuang jauh-jauh, dan banyak pula yang mesti digenggam erat-erat. (Image: Unsplash.com)

Deretan lagu tentang sahabat boleh jadi membuat hatimu tenang, dan hidupmu penuh dengan pencarian tentang makna sahabat sejati. Salah satu lagu yang boleh dipertimbangkan adalah ‘Sahabat Sejati’ dari Sheila on 7. Lagu yang dirilis tahun 2000 itu seolah menjadi penanda dimulainya babak generasi milenial awal dan menjadi akhir generasi yang mengaku diri sebagai generasi 90-an.
Lagu tentang persahabatan bukan cuma dari band asal Jogjakarta itu saja, sebab tiga tahun kemudian ada band dari Bandung yang kini bernama Noah, merilis lagu berjudul ‘Sahabat’. Kemudian Coklat dengan ‘Nyanyian Sahabat’, Nidji dengan ‘Arti Sahabat’, Padi ‘Sahabat Selamanya’, dan masih banyak lagi.

Pencarian makna kontemplatif tentang sahabat itu biasanya terjadi pada usia-usia semuda kamu. Usia pencarian makna kehidupan, dimana lingkungan adalah buku baru yang mesti dibaca berulang kali sebagai bekal mengarungi kehidupan di separuh usia nanti. Mumpung masanya sekolah, masanya kuliah, maka mencari sahabat sejati pun dimulai dari memilah-milah teman. Sebab memang tak semua teman layak dijadikan sahabat. Oleh karenanya, mari ketahui tujuh jenis teman yang bisa membuat hidupmu berantakan.

Teman yang tanpa hujan tiada angin memujimu secara tiba-tiba

Untuk mengenali jenis teman semacam ini, maka bayangkanlah dirimu sebagai sosok nan cerdas dan jenius di kelas, ya bintang kelas deh. Atau nggak usah dibayangkan ya, sebab kamu memang bintang kelas. Nah, ketika masanya jelang ujian, mungkin ada yang mengendap-endap merapat ke meja kelasmu, memujimu setinggi langit, dan menyediakan ribuan kebaikan buatmu.

Saat ujian tiba, dia meminta kamu berbagi jawaban. Setelah sekian banyak kebaikan yang kamu terima, layaknya orang Indonesia, kamu pun merasa tidak enak hati untuk menolaknya. Dan begitulah yang terjadi hingga ujian pun selesai. Sudah bisa ditebak, ia pun pergi, begitupun dengan kata-kata manis dan kebaikan-kebaikannya. Teman semacam ini jelas tidak layak jadi sahabat.

Teman yang memanfaatkanmu bagai bidak catur

Teman yang satu ini memang mirip dengan teman yang memujimu secara tiba-tiba seperti diatas. Namun ia lebih parah, sebab bisa jadi ia tak cuma menghendaki sesuatu yang sifatnya sementara, tapi juga kepercayaan dan penghargaan darimu. Hingga suatu saat, ketika dua hal itu sudah diperolehnya, ia bakal menganggapmu sebagai bidak catur yang bisa disuruhnya untuk melakukan sesuatu.

Teman yang terobsesi menirumu

Ini memang agak konyol, tapi pada kenyataannya memang ada. Sebab ada seorang teman yang dekat dengan kamu, tapi pada satu sisi ia pun berupaya meniru segala sesuatu yang kamu lakukan. Kamu beli ponsel merek A, ia pun ikutan. Kamu ikut ekstrakurikuler pencak silat, ia pun ikutan. Kamu suka drama Korea, ia pun tak kalah. Pokoknya apapun yang kamu lakukan, ia wajib mengikutinya.

Teman semacam ini tentu tak baik secara psikologi, sebab dalam persahabatan, kamu dan dia mesti mencari jalan masing-masing, menemukan tantangan masing-masing, dan pada akhirnya kalian bertemu kembali menceritakan kisah masing-masing secara akrab layaknya sahabat. Nah, bagaimana kalau dia memiripkan diri denganmu? Tentu ada kesalahan dengannya, yakni tidak bisa menemukan jati dirinya sendiri. Kalau tidak mampu menemukan jati dirinya, bagaimana mungkin ia bakal menemukan sahabat sejatinya?

Teman yang selalu menyaingimu

Teman jenis ini mungkin hampir sama dengan teman yang menirumu. Namun kali ini, ia tidak Cuma meniru, tapi juga berupaya menyaingi. Apapun yang kamu lakukan, ia harus melampauinya. Baginya mengalahkanmu adalah tantangan.

Maka jauhilah teman semacam ini, jangan jadikan ia sebagai sahabat. Sebab hatinya boleh jadi penuh iri dan berpotensi dengki padamu.

Si raja akting

Teman semacam ini akan berpura-pura selamanya. Kepura-puraan ini selalu dikaitkan dengan kepentingannya. Apabila kepentingannya masih terjamin, ia terus melanjutkan kepura-puraannya itu. Namun jika tidak, ia bakal berhenti berpura-pura dan akan meninggalkan kamu sebagai temannya.
Teman jenis ini memang sangat asyik diajak nongkrong, jajan di kantin, ngobrol apapun, berpetualang, dan lain sebagainya. Tapi ia tak bisa diajak susah bersama. Sebab teman jenis ini seringkali berhutang tak pernah membayar, meminjam barang tak pernah kembali, dan tak punya balas budi sama sekali. Ia hanya bisa berpura-pura jadi temanmu, hanya akting semata.

Pengkhianat

Siapa diantara kamu yang suka banget dengan Valentino Rossi? Sampai-sampai kamu pun dijuluki sebagai ‘si raja tikungan’. Eits, jangan berbangga dulu. Sebab istilah ‘si raja tikungan’ akhir-akhir ini dipakai untuk teman yang suka berkhianat, khususnya dalam urusan asmara. Kamu sedang asyik-asyiknya melakukan pendekatan kepada si A, eh teman kamu menyerobot dan melakukan pendekatan yang sama sampai mereka jadian. Nah, begitulah ‘si raja tikungan’. Hobinya memang ‘menikung’.

Jika soal asmara ini tidak cocok jadi perumpamaan, maka yang lebih parah dari teman jenis ini adalah ia mengkhianati kepercayaan kamu dalam segala hal. Apapun itu.

Si ‘Social Climber

Banyak yang menganggap kalau ‘social climber’ hanya muncul pada generasi milenial dimana media sosial sangat mewabah. Padahal yang namanya ‘pemanjat status sosial’ ini telah muncul sejak lama, bahkan mungkin sejak peradaban manusia masih sederhana.

Untuk mengenali si ‘social climber’ ini, kamu memang butuh waktu. Tapi paling tidak, ia terlihat dari bagaimana caranya dalam memilih-milih teman. Jika ia berteman dengan orang-orang kaya, agar dirinya tampak kaya, maka itulah ‘social climber’. Mau berteman dengan sosok semacam ini?

Sulitnya mendeteksi mana teman yang bisa jadi sahabat, dan mana teman yang palsu

Memang sulit mendeteksi mereka. Sebab kita pun membutuhkan teman dalam hidup ini. Setiap orang selalu berharap setiap orang lain adalah temannya, syukur-syukur bisa berlanjut menjadi sahabat yang baik. Sehingga setiap orang bakal membuka dirinya terhadap potensi persahabatan dengan orang lain.
Untuk mendeteksi apakah mereka teman sejati atau tidak, pasti membutuhkan waktu. Ada yang sebentar, banyak juga yang membutuhkan waktu yang lama. Intinya, jika kamu terbuka pada perubahan maka suatu saat kamu akan sadar kalau mereka adalah teman yang palsu.

Jika kamu sadar tentang kepalsuan mereka, maka ada dua pilihan. Pertama, kamu bisa meninggalkan mereka secara total. Yang kedua, kamu bisa menjauhi mereka tanpa meninggalkannya. Kedua pilihan itu merupakan pesan, bahwa kelakuan mereka tak bisa dilakukan oleh seorang teman.