Tingkah Laku Pengunjung Tempat Wisata Ini Bikin Gemes

0
10
views
Meski sudah bayar tiket, tak lantas bertindak seenaknya.

Tempat yang bersejarah, hutan nan asri, dan pantai yang indah, sejatinya bukanlah warisan dari nenek moyang kamu untuk dihabiskan saat ini juga. Sehingga keberadaan tempat-tempat tersebut, yang biasanya telah menjadi tempat wisata, harus rela dikotori oleh ulah para pengunjungnya yang tak bertanggung jawab.

Tingkah laku semacam ini memang bisa dikatakan sebuah akumulasi dari jutaan kunjungan manusia ke tempat-tempat tersebut. Dan boleh jadi hanya dilakukan oleh oknum-oknum yang tidak mengenyam pendidikan, meski gelar dan titelnya setinggi langit. Sementara akibat akumulasi tersebut, pantai jadi kotor, gunung jadi rusak, dan cagar budaya jadi tak terawat.

Ulah-ulah nakal itu memang tak bisa ditimpakan kesalahannya kepada semua pengunjung, tapi ada oknum yang tidak beradab yang boleh jadi luput diberi teguran oleh pengelola tempat wisata dan kamu yang tidak peduli terhadap ketidakpedulian mereka.

Baru-baru ini ada warganet yang mungkin mencoba peduli, dengan memotret tingkah laku oknum semacam ini di warisan budaya Indonesia yang pernah masuk ke dalam daftar 7 Wonders of The World. Silakan lihat fotonya di bawah ini.

borobudur
Sudah tahu ada tulisan ‘dilarang duduk’, kog masih melanggar? Pantas Borobudur sudah tak lagi masuk daftar 7 Keajaiban Dunia. (Sumber: Facebook)

Ulah nakal tak cuma itu, sebab dari tahun ke tahun tempat yang indah sudah rusak sebab ulah tangan-tangan jahil

Kamu tentu masih ingat tentang Taman Bunga Amarilis di Gunung Kidul, Jogjakarta. Ada 2100 bibit bunga, yang sedianya sebagai pemanis tanah kosong, tiba-tiba rusak sebab tukang selfie yang tak tahu aturan.

Keindahan Taman Lili harus terenggut oleh para penggila selfie. (Sumber: Tribunnews.com)

Taman bunga yang sedianya menawarkan keindahan salah satu sudut Jogjakarta bak negeri Belanda ini harus rela menunggu beberapa periode lagi untuk berbunga dan mekar. Untunglah, Pak Sukadi sang pemilik kebun dengan berbesar hati mengikhlaskan kebunnya diinjak-injak orang.

Kejadian pada 2015 tersebut cukup viral, dan menjadikan salah satu pengguna Instagram sebagai bahan bully warganet. Sebab, setelah menjadi salah satu penyebab matinya tumbuhan Amarilis itu, ia mengunggah caption yang menyatakan tanpa salah sama sekali.

Yah, mungkin begitulah rata-rata karakter pelaku yang suka mengacak-acak tempat publik. Sehingga banyak orang yang mau menegur jadi memilih mundur. Pada akhirnya, lebih banyak yang memilih teguran lewat media sosial.

Tak cuma rusaknya keindahan, kebiasaan buruk pengunjung tempat wisata juga menjadi sebab rusaknya habitat alam

Beberapa tahun belakangan ini, sampah di gunung dinilai cukup mengkhawatirkan. Sebabnya tentu saja banyak orang yang menjadikan gunung sebagai tempat sampah. Para oknum pendaki yang hanya mengaku-aku sebagai pecinta alam, yang pada kenyataannya hanya menjadikan foto-foto di puncak ketinggian hanya sebagai postingan media sosial belaka.

Sampah di gunung Semeru. (Sumber: BBC.com)

Bahkan orang-orang dengan tingkah laku yang buruk ini juga merembet ke pantai. Baru-baru ini, seorang warganet juga melaporkan soal betapa kotornya pantai di sekitar tempat tinggalnya karena banyak sekali sampah.

Kotornya pantai Karangsong, Indramayu, akibat banyaknya sampah. (Sumber: Facebook)

Tingkah laku yang buruk itu memang terjadi dimana-mana. Mungkin ada yang beralasan, “Loh, ‘kan sudah bayar tiket?” Betul, kamu sudah membayar tiket masuk. Tapi bukan berarti setelah membayar tiket masuk bisa melanggar peraturan seenaknya. Sebab semua tempat wisata punya aturan main, dan jika soal sampah, menjaga fasilitas, dan tata krama, pastikan saja akan berlaku aturan yang sama.