Home Psikologi Setiap Orang Terlahir Tak Sama, Buat Apa Membandingkan Diri Dengan Orang Lain?

Setiap Orang Terlahir Tak Sama, Buat Apa Membandingkan Diri Dengan Orang Lain?

6 min read
0
1
berhenti membandingkan dengan orang lain

Satu-satunya yang patut disalahkan jika harga diri kamu berada pada posisi paling rendah, hanyalah sikap membanding-bandingkan hidup dengan orang lain. Apapun yang orang lain dapatkan, tampilkan, dan miliki, selalu kamu bandingkan dengan punya kamu sendiri. Kamu senantiasa minder, punya hati yang selalu iri, dan merasa selalu kurang. Pada satu waktu, sikap ini akan menghancurkan kehidupan kamu.

Psikologi manusia memang terus berkembang. Sebab otak manusia bertambah rumit dan pikiran bertambah kompleks. Pikiran manusia bertumbuh dan berkembang dengan melihat sekelilingnya, terutama keberadaan manusia lain di sekelilingnya. Dan hal ini alami sebagai bahan belajar, beradaptasi, dan mengaturnya sesuai dengan kehidupan sendiri. Tapi cukup sampai disitu, bukan diteruskan hingga membanding-bandingkan apa yang mereka punya dengan punyamu.

Fokuslah pada apa yang akan kamu capai dalam hidup ini. Sebab fokus terhadap apa yang dicapai oleh orang lain, tak akan membuat kamu punya keberuntungan yang sama. Bisa jadi dia mencapai angka 9 dalam skala 10, dan bukannya kamu pun bisa sama-sama mengejar angka 10, namun kamu malah fokus ke angka 9 sebagaimana dengan apa yang dia raih. Ini berbahaya. Mengapa?

Mari kita ilustrasikan sebuah lomba lari. Untuk menghadapi kejuaraan lari marathon 42,195 km, seorang atlit akan berlatih untuk menghadapi lari yang lebih jauh, katakanlah 50 km. Sebab jika pun meleset untuk jarak tempuh 50 km itu, setidaknya ia pun mampu berlari hingga jarak 42,195 km. Maka begitu pun dalam hidup. Kalau fokus dengan apa yang diraih oleh orang lain, kamu tak akan punya nilai apapun untuk mencapai tujuan kamu sendiri.

Hadapi kenyataan bahwa setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing

Ada yang mampu masuk ke universitas negeri ternama, ada pula yang cuma bisa masuk ke universitas lokal yang biasa-biasa saja. Semua punya jalannya sendiri, nasibnya sendiri. Sebab ada yang dilahirkan sebagai anak dari seorang camat, birokrat dan konglomerat, ada juga yang hanya jadi anak dari seorang buruh yang baru mendapat upah setelah beribu peluh. Semuanya telah digariskan oleh Tuhan, dan manusia hanya berupaya dan menjalani hasilnya.

Setiap orang punya kelemahan, namun fokuslah dengan kekuatan

Kamu tak akan bisa bagus dalam seluruh mata pelajaran, percayalah. Sebab selalu ada sisi lemah dalam setiap manusia. Namun kamu bisa memfokuskan diri pada apa yang kamu kuasai. Jadilah spesialis dalam apa yang kamu kuasai itu. Sebab separuh usia kamu akan terlibat dalam apa yang kamu kuasai itu, dan darinyalah kemungkinan besar kamu bisa menggantungkan diri. Ya, karena tak ada orang yang mendulang finansial dengan spesialisasi yang sama sekali tak dikuasainya. Maka jangan fokus pada apa yang kamu tak bisa, jangan fokus pada kelemahan kamu.

‘Buka dulu topengmu’

Begitulah bunyi sebuah syair lagu dari grup band yang telah bubar, Peter Pan. Membuka topeng berarti membuka tabir-tabir kepalsuan yang menutupi diri kita. Sebab setiap manusia itu unik, dan keunikan itu semestinya dibiarkan saja agar setiap orang tahu. Tak ada guna menginginkan ‘wajah’ milik orang lain, sebab bisa jadi kamu tak akan mampu mencapainya, atau bahkan kamu bisa mencapai yang lebih dari itu.

Jadikan orang lain sebagai inspirasi, bukan cermin

Ada perbedaan yang sangat terang benderang apabila membandingkan antara sumber inspirasi dengan pantulan bayangan dari cermin. Bayangan dari cermin akan memantulkan segalanya, jerawat yang merah, alis yang tak simetris, bahkan lombok yang masih tersangkut di gigi. Namun sumber inspirasi akan memantulkan sesuatu yang positif, dan memberikan energi bagi banyak orang untuk melakukan kegiatan positif yang sama.

Ketika hidup memberi banyak hal untuk kita nikmati, lantas haruskah kita selalu berfokus kepada apa yang tak bisa kita nikmati? Kamu boleh iri pada temanmu, untuk sekedar melecut semangat agar mencapai hal-hal positif yang dia dapatkan.

Dan, hai buat kamu yang selalu iri dan memendam keinginan untuk selalu menjadi orang lain, hal terakhir jika tulisan diatas gagal untuk menghentikan sikap kamu ini, maka ingatlah peluh orang tua kamu untuk memberimu penghidupan. Kalau masih tidak bersyukur atas semuanya, maka tak ada hal lain yang mampu menyadarkanmu untuk terus membanding-bandingkan hidupmu denga hidup orang lain.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Psikologi

Leave a Reply

Check Also

Empat Hal Yang Mesti Dipertimbangakan Sebelum Ikut Tes CPNS

Tahun 2017, 61 instansi pemerintahan membuka lowongan pekerjaan. Tentu bukan sembarang low…