Home Psikologi Karena Hidup Tak Selamanya Menang, Inilah Cara Berdamai Dengan Kekalahan

Karena Hidup Tak Selamanya Menang, Inilah Cara Berdamai Dengan Kekalahan

6 min read
0
0
Cara menerima kekalahan

Merelakan sesuatu untuk pergi, dan bersikap seolah-olah kalah, memang terlihat jelas selayaknya orang-orang yang menyerah. Bahkan kamu pun akan merasakan bahwa jiwamu memang kalah menghadapi problema kehidupan yang benar-benar menyita perhatian, seperti pisah dari pasangan. Maka harus ada cara untuk bangkit dan bekerjasama dengan kekalahan jiwa ini agar tak terseret pada laku negatif yang meungkin disebabkan depresi berkepanjangan.

Sebab semua orang pernah kalah. Banyak dari mereka yang kemudian tersingkir dan tak mampu bangkit dalam waktu yang cepat. Mereka menyia-nyiakan waktu terpuruk dalam kesedihan yang panjang. Sebab ingin beranjak, namun kaki begitu berat diayunkan. Karena hati pun terasa remuk, dan menarik kepala agar tak mampu mendongak pada dunia yang kejam. Sampai disini, kalah adalah kenistaan.

Karena semua orang pernah kalah, dan dari mereka yang bangkit selayaknya kita belajar bersikap dengan benar. Mungkin pertama kali ada tahapan menolak takdir yang menimpa, kemudian marah, mencari celah, dan depresi. Orang-orang yang kalah, selalu berhenti di proses yang terakhir. Ia menolak untuk menerima kenyataan yang terpampang jelas di hadapannya. Maka kamu, yang punya perjalanan hidup yang panjang, teruskan hingga jiwamu menerima kekalahan itu. Ketika kamu menerima dan merelakan kekalahan itu, itu menjadi pertanda hatimu tak lagi sakit. Sebab itu menjadi langkah pertama untuk kembali menata hidup yang lebih baik.

Kamu boleh bertanya, tahapan apa saja yang dibutuhkan agar hati mampu menerima kenyataan? Dan inilah tahapan yang bisa kamu lakukan agar kekalahan yang kamu terima, sakit hati yang kamu dapat, dan depresi yang kamu derita, tidak lagi menjadi beban hidup yang terus-menerus bergelayut di kaki yang memberatkan kamu dalam melangkah. Tahapan ini diambil dari teori yang dikemukakan Elizabeth Kubler-Ross dalam ‘The 5 Stages of Grief’.

1. Penolakan

Kegagalan, baik dalam menjalin hubungan maupun karir, memang sukar diterima. Karena kamu sudah membayangkan banyak hal-hal indah dalam pikiranmu. Ketika kamu pertama kali menjalin cinta, hal yang terbayang adalah kamu menghabiskan masa tua bersamanya dengan dikelilingi anak cucu. Pun ketika kamu meniti karir, yang terbayang adalah meja direktur itu tertulis namamu. Sayang, semuanya mesti kandas, dan itulah kenyataan yang wajib kamu terima. Tapi hati memang menolak kenyataan ini, dan itu wajar saja.

2. Marah

Memang sulit ketika menghadapi kenyataan yang tak sesuai harapan. Untuk itu kamu pun boleh marah sekedar meluapkan kekesalan kamu. Namun patut diingat, marah bukan berarti lepas kendali. Kamu mesti menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya pelan-pelan. Santaikan sejenak otot-otot yang kaku terkena imbas marah itu. Dan biarkan marahmu terbebas dan tak lagi membelenggumu. Maafkan segalanya.

3. Tawar-Menawar

Kamu boleh berdamai dengan kondisi yang terjadi, dan mencoba mengalah untuk memperbaiki hubungan, baik dengan bos yang telah menghentikan laju karirmu atau pasangan yang telah meninggalkanmu. Dan di posisi ini mungkin saja kamu akan dihempaskan sekali lagi. Dan jangan salah, banyak pula yang gagal, sehingga mereka sering dihinggapi depresi.

4. Depresi

Ya, depresi biasanya menjadi tahap akhir bagi mereka yang tidak mampu berdamai dengan takdir yang menimpa. Ditolak untuk yang pertama pun sudah sakit, apalagi memohon kembali dan ditolak untuk kedua kali. Sakit memang, tapi kamu tak punya alasan untuk terus-menerus depresi dan meratapi nasib buruk yang menghinggapi.

Banyak orang yang berhenti disini. Ia depresi tak henti-henti. Kakinya tak mampu melangkah sebab berat sekali. Sebab ia tak mampu menerima takdir yang telah terjadi.

5. Menerima dengan lapang hati

Inilah langkah terakhir yang akan membebaskanmu dari belenggu takdir buruk yang menimpa. Sebab dengan menerima dengan kelapangan hati akan membuat langkahmu ringan, dan hatimu tak lagi sakit. Kalau kamu tak lagi berpasangan dengannya, anggap ia jadi pelajaran masa lalumu tentang bagaimana menjalin hubungan yang baik. Pun ketika kamu dipecat secara sepihak dari tempat kerja, kamu punya modal untuk bekerja lagi dengan giat, hingga karir akan menempatkanmu di posisi yang baik, dengan materi yang juga lebih baik. Dan inilah yang disebut mengalah atas keadaan. Berkorban untuk langkah yang lebih baik.

Dan akhir kata, selamat berdamai dengan apapun keadaanmu.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Psikologi

Leave a Reply

Check Also

Empat Hal Yang Mesti Dipertimbangakan Sebelum Ikut Tes CPNS

Tahun 2017, 61 instansi pemerintahan membuka lowongan pekerjaan. Tentu bukan sembarang low…