Home Sosial Dari Sipadan Ligitan Hingga Bendera Terbalik, Pemicu Ketegangan Indonesia vs Malaysia Selalu Saja Ada

Dari Sipadan Ligitan Hingga Bendera Terbalik, Pemicu Ketegangan Indonesia vs Malaysia Selalu Saja Ada

7 min read
0
0
bendera indonesia terbalik

Siapapun yang menghabiskan hidupnya selama puluhan tahun di tempat yang sama, bakal merasakan ada riak-riak konflik dengan orang-orang di sekitarnya. Sama halnya dengan kehidupan berbangsa. Sebab isi dari bangsa adalah komunitas manusia yang lebih besar dan kompleks. Tentu potensi konfliknya bakal lebih besar lagi. Inilah yang terjadi pada dua bangsa yang sedang bertetangga: Indonesia dan Malaysia.

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pernah menyerukan ‘ganjang Malaysia’ pada tahun 1960-an. Sebab saat itu, Malaysia berkeinginan menggabungkan Brunei, Sabah, dan Serawak ke dalam Persekutuan Tanah Melayu. Alasan Bung Karno menyerukan pengganyangan bukan karena tak mau bersatu dengan Malaysia selaku negeri serumpun, namun ada penjajah Inggris dibalik penyatuan tersebut.

Presiden Sukarno saat berpidato dalam Indonesia Menggugat. via Hidden Secret.

Gerakan pengganyangan ini memang tak cuma gertak diplomatik dari Sang Proklamator. Sebab beliau menugaskan Menlu Soebandrio untuk mengambil langkah permusuhan terhadap negeri jiran ini.

Konflik Indonesia dengan Malaysia terjadi di beragam sektor

Waktu pun berlalu, namun rupanya benih-benih permusuhan masih bertalu. Yang paling membekas adalah perebutan pulau Sipadan dan pulau Ligitan yang berada di timur laut pulau Kalimantan. Kedua pulau tersebut kemudian berpindah tangan ke Malaysia sesuai dengan keputusan Mahkamah Internasional. Keputusan yang sah di akhir tahun 2002 itu cukup memukul rasa nasionalisme rakyat Indonesia.

Tahun-tahun selanjutnya pun, Indonesia dengan Malaysia penuh dengan sengketa. Alih-alih lebih cakap dalam bekerjasama, sepertinya kedua negara ini cukup sering terlibat konflik yang menguras energi. Apalagi ditambah dengan bumbu-bumbu panas di media sosial saat ini. Tak kurang soal wilayah perbatasan semisal Ambalat, seni dan budaya pun tak luput menjadi sumber konflik kedua negara. Oh iya, bahkan makanan juga.

Insiden bendera terbalik yang terjadi dua kali pada waktu yang sama

Bendera terbalik di harian cetak Metro. via Merdeka

Sea Games ke 29 di Kuala Lumpur sedianya menjadi perekat hubungan antara negara-negara Asia Tenggara. Tapi entah ada apa dibaliknya, beberapa kejadian seolah menjauhkan tujuan mulia dari pertandingan antar cabang olahraga itu. Dari fenomena tiket, akomodasi atlet, hingga persoalan bendera yang terbalik.

Siapapun tentu bakal bertahan jika cuma dilukai fisik, namun bendera yang merupakan simbol negara punya tempat yang berada jauh diatas ruang-ruang fisik tadi. Ia adalah nasionalisme yang dibela dengan darah dan air mata para pendahulu. Simbol negara merupakan alat pemersatu yang seharusnya tak boleh diganggu. Namun insiden bendera terbalik, di booklet panduan Sea Games ke 29 yang telah naik cetak ribuan itu telah membuat nasionalisme tercabik-cabik.

Permintaan maaf pun meluncur dari pejabat berwenang Malaysia, seperti Menteri Olahraga Malaysia, Khairy Jamaluddin, yang langsung berkontak dengan Menteri Olahraga Indonesia, Imam Nahrawi. Presiden Jokowi pun menunggu permintaan maaf secara resmi dari Kerajaan Malaysia selaku penanggung jawab kegiatan.

Tak cuma di booklet, bendera Indonesia terbalik pun berada di salah satu harian cetak Malaysia. Di media cetak bernama Metro itu, ada sebuah infografis dua halaman yang memajang peta kekuatan negara peserta Sea Games. Namun sayangnya, entah editornya sedang mengantuk ataupun karena faktor kesengajaan, bendera Indonesia pun menjadi bendera Polandia.

Kecaman warganet yang tak henti-henti

Caci-maki dan sumpah serapah pun terlonatar pada panitia Sea Games dan secara umum pada Malaysia. Hashtag #ShameOnMalaysia bertahan seharian penuh di deretan trending topic Indonesia teratas di Twitter. Begitu pula di Facebook. Google pun mencatat ada pencarian kata kunci ‘bendera indonesia terbalik’ yang mencapai 100,000 pencarian lebih dalam satu hari. Kata kunci tersebut kontan saja menempati posisi puncak Google Trends.

Ya, semuanya berisi kecaman. Sebab konflik pada hari ini memang kelanjutan dari pertikaian psikologi antar dua saudara rumpun Melayu.

Mencari siapa yang menyulut bara sering tak penting, semuanya berfokus pada api

Begitulah konflik. Apalagi konflik antara Indonesia dan Malaysia, dua tetangga yang kebetulan memiliki lokasi strategis di percaturan perairan dunia. Posisi geostrategis yang mumpuni pada kedua negara memungkinkan Indonesia dan Malaysia akan senantiasa mengalami benturan. Lantas apa yang bisa kita lakukan?

Saat kamu mampu meredam informasi hoax yang datang terkait isu politik maupun SARA di negeri sendiri, hendaknya kemampuan yang sama pun bisa diterapkan pada isu yang berbeda. Negeri ini yang sedang panas dengan Malaysia, boleh jadi dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengambil manfaat bagi kepentingan mereka sendiri.

Biarlah diplomasi antar negara menyelesaikannya secara legal dan bermartabat. Sebab jika hukum tak lagi berwibawa dan dihormati, lantas kepada apa lagi keteraturan ini berhulu.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Sosial

Leave a Reply

Check Also

Beras Sehat Asli Indramayu Ini Hilangkan Was-Was Soal Beras Palsu

Sekenyang apapun makanmu, niscaya tak akan lengkap rasanya jika belum memakan nasi. Begitu…