Home Sosial Diskon Adalah Virus Yang Membuat Manusia Seolah Jadi Zombie. Merangsek Cepat dan Kalap.

Diskon Adalah Virus Yang Membuat Manusia Seolah Jadi Zombie. Merangsek Cepat dan Kalap.

9 min read
0
0

Diskon selalu jadi magnet utama dalam dunia perdagangan. Terbukti, dengan sebuah kata diskon membuat mata calon konsumen akan menoleh, mampir, dan memutuskan untuk membeli barang yang mungkin saja tak dibutuhkannya. Rata-rata diskon yang sering ditemui sehari-hari biasanya berkisar antara 20-30% saja. Ini pun sudah membuat para gila-belanja sudah berkeringat dingin demi menahan hasratnya.

Yang menarik dari fenomena diskon ini, ketika diskon besar bertemu dengan brand ternama. Ya, pasalnya Mall Grand Indonesia menggelar diskon besar-besaran untuk sepatu asal Amerika, Nike. Dan diskon pun digelar tak tanggung-tanggung hingga mencapai 90%. Gila!

Kontan saja kegiatan yang berlangsung di Exhibition Mall pada 21 hingga 27 Agustus tersebut langsung diserbu pembeli. Mereka heboh, sebab paduan diskon besar dengan merek sepatu ternama telah membuat siapapun bisa kalap. Sebab Nike dikenal dengan sepatu yang branded, membuat pemakainya seolah naik level sosial. Ditambah pula biasanya hanya didapatkan dengan harga jutaan rupiah, dan kini dipangkas harganya habis-habisan. Ya, siapa yang tak kalap? Ajang diskon ini pun bisa ditebak: ricuh.

Berbagai video di media sosial yang viral menjadi bukti sahih kalau kejadian ricuh itu betul-betul terjadi. Calon pembeli bahkan merangsek sejak stand belum dibuka. Pintu stand berhasil dijebol, dimana petugas keamanan tak kuat lagi menjaga pemburu diskon yang telah mengincar sepatu kesayangan. Saat situasi mereda, palang pintu berhasil dijaga dan tampak di video yang lain calon pembeli telah antre mengular di luar stand.

Antrean di luar stand memang membuat mereka yang menonton cuma bisa mengelus dada. Betapa merek ternama telah membuat mereka memberikan banyak waktu. Ninyir di media sosial pun pecah tak cuma melihat pintu yang dijebol dan antrean yang mengular. Sebab setelah mereka mencapai tumpukan sepatu yang diinginkan, kalapnya calon pembeli pun tak memberi jeda sepatu untuk diirapikan. Lantai stand penuh dengan sepatu dan dusnya yang menghampar. Kabarnya, banyak calon pembeli yang tidak mendapatkan sepatu yang diinginkan.

Popularitas merek tertentu telah membuat banyak orang lupa, kalau fungsi barang hanya sebagai pelengkap kehidupan.

Semahal-mahalnya baju, tak akan mengubah fungsinya menjadi pelindung keluarga dari hujan dan badai layaknya rumah. Ia tetaplah baju yang mestinya dibuat senyaman mungkin agar ketika dipakai bisa menutup aurat dan nyaman di kulit dan badan. Ketika harganya jadi mahal, itu karena ada faktor diluar fungsi baju itu sendiri. Begitu pun dengan sepatu.

Merek sepatu Nike memang cukup branded dan populer sebagai sepatu yang bagus dan terkenal. Maka ketika di gym, kafe, maupun lapangan futsal merek ini dipakai oleh seseorang, sontak banyak yang melihat kalau orang tersebut punya kedudukan sosial yang tingkatannya berada di atas. Ya siapa yang mau menghambur-hamburkan jutaan rupiahnya demi sebuah sepatu yang letaknya di bawah kaki, selain orang-orang kaya itu? Demikian pendapat umumnya.

Itulah yang melatarbelakangi banyak orang menyerbu stand Nike di mall tersebut. Orang-orang dengan pikiran yang sama, yakni Nike bakal meningkatkan gengsi dalam pergaulan sehari-hari, berkumpul jadi satu. Mereka kalap demi melihat apa yang biasa dipakai oleh kalangan berduit, ternyata bida didapatkan tak lebih dari setengah harga saja. Meski harus antre dan berjibaku sekian lama demi mencari sepasang sepatu idaman.

Nike bukan yang pertama. Antrean panjang dan sedikit ricuh pernah terjadi pada Crocs dan Blackberry.

Senayan City pernah menjadi saksi, diskon hingga 70% bisa membuat banyak orang rela antre mengular berdiri berjam-jam. Pasalnya, tujuh tahun silam sebuah merek sandal-sepatu asal Amerika Crocs membuat warga Jakarta dan sekitarnya berlaku hal yang sama dengan Nike tempo hari.

diskon crocs
Crocs yang harganya tinggi, segera diserbu setelah ada pemangkasan harga. via Viva

Empat lantai Mall Senayan City terpaksa dipakai untuk menampung antrean yang dihuni oleh ratusan orang. Sebab kapan lagi bisa mendapatkan sandal dan sepatu yang biasanya harganya 800 ribu hingga jutaan rupiah dihargai kurang dari setengahnya?

Setahun setelah antre Crocs, ratusan orang pun kemudian antre di Pacific Place, Jakarta demi mendapatkan ponsel Blackberry. Saat itu ponsel asal Kanada ini begitu memikat, trendy, dan bonafide. Research in Motion (RIM) pada waktu itu memberikan potongan harga 50% untuk 1.000 pembeli pertama. Meski berlaku untuk pembelian lewat kartu kredit, tetap saja banyak yang mengantre hingga sempat ricuh dan banyak korban yang terluka.

Blackberry saat masa jayanya, memang jadi barang yang sangat menggiurkan. Via Viva

Budaya konsumerisme yang sudah menggurita. Bisa nggak kita berhenti dari budaya ini?

Ada seloroh yang cukup menyentil di Twitter, “Kalau barang branded dibeli dengan diskonan, apakah barang tersebut masih disebut dengan branded?”

Begitulah kiranya salah satu nyinyiran di media sosial selain menyoroti antrean panjang d Grand Indonesia kemarin. Di satu sisi, harapan untuk menaikkan gengsi dengan sepatu Nike, ternyata dompet tak bisa berbohong. Sebab siapapun yang mampu membeli dengan harga normal, tak akan menyia-nyiakan waktunya demi sepatu diskonan.

Budaya konsumerisme yang menjangkiti masyarakat Indonesia, dan juga masyarakat di negara lain, memang tak bisa terelakkan. Sehingga ajang diskonan semacam ini selalu menjadi pintu masuk untuk memuaskan hasrat itu. Dan ketika ajang ini pun tak ada, sayangnya banyak orang yang menempuh jalan pintas seperti mencuri dan menipu demi mengatasi tebal dompet yang tak sanggup menutupi hasrat konsumerisme itu.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Sosial

Leave a Reply

Check Also

Beras Sehat Asli Indramayu Ini Hilangkan Was-Was Soal Beras Palsu

Sekenyang apapun makanmu, niscaya tak akan lengkap rasanya jika belum memakan nasi. Begitu…