Home Sosial Empat Hal Yang Mesti Dipertimbangakan Sebelum Ikut Tes CPNS

Empat Hal Yang Mesti Dipertimbangakan Sebelum Ikut Tes CPNS

10 min read
0
0
pegawai negeri sipil

Tahun 2017, 61 instansi pemerintahan membuka lowongan pekerjaan. Tentu bukan sembarang lowongan, sebab ini berkaitan dengan penyelenggaraan negara. Dimana mereka yang terjaring dalam jumlah 17.928 orang bakal menyandang status Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mereka bakal mengabdi secara formal pada negara, untuk kemudian mendapat tunjangan dan fasilitas dari negara.

Pada era ’90-an, menjadi PNS adalah idaman setiap orang. Sebabnya jelas, negara tak pernah bangkrut, sehingga mampu terus menggaji pegawainya, kemudian ada jaminan hari tua, serta naiknya status sosial beberapa tingkat. Untuk para lelaki, menjadi PNS biasanya bakal otomatis akan menyandang pula status sebagai calon menantu idaman. Kelebihan-kelebihan ini sering tidak didapatkan pada pekerjaan yang lainnya.

Waktu berlalu, anggapan tentang PNS itu belum juga berubah. Faktanya, dari jumlah lowongan sebanyak 17.526 yang disediakan Kemenkumham bulan Agustus kemarin, ada 1.116.138 yang mendaftar. Dari jumlah pendaftar sebanyak itu, yang memenuhi syarat hanya 611.311 orang saja. Kalau dirata-rata, setiap lowongan diperebutkan oleh 35 orang.

Percaya atau tidak, dari para pelamar itu tidak semuanya memiliki status pengangguran. Sebab ada banyak diantaranya yang berstatus sebagai pegawai di tempat lain, yang mungkin saja ingin memperbaiki penghasilan bulanannya. Lantas apa saja sih yang mesti dipertimbangkan sebelum mengirim lamaran menjadi calon PNS?

Janji dan sumpah yang cukup berat ketika diangkat sebagai PNS.

Sumpah jabatan PNS atau pekerjaan apapun sebenarnya berat. via UIN Raden Intan

Ada yang tahu sumpah jabatan dalam PNS? Kalau belum tahu, kamu boleh baca sumpahnya di bawah ini.

“Demi Allah, saya bersumpah/berjanji:
Bahwa saya, untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil, akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah.

Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran dan tanggung jawab.

Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan Martabat Pegawai Negeri, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan.

Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan. Bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara.”

Bagaimana, ringan? Atau justru kamu beranggapan kalau itu cuma janji yang bisa diingkari sambil lalu? Jika menganggap kalau janji kepada negara sama halnya dengan janji apel malam minggu kemudian tidak datang, maka tak usahlah menjadi PNS.

Sebabnya jelas, menjadi PNS adalah menjadi pengabdi negara dan pelayan masyarakat. Ada hajat hidup orang banyak yang dititipkan di pundak kamu. Kalau masih mementingkan kepentingan pribadi diatas kepentingan bangsa dan negara, mau jadi apa negara ini?

Gaji PNS nggak besar-besar amat.

Gaji PNS jika dibandingkan dengan karyawan BUMN memang nggak ada apa-apanya. via Vebma.com

Ya, menjadi PNS berarti terjamin penghasilannya, bahkan hingga pensiun. Namun jangan salah, dibandingkan dengan pekerjaan di perusahaan swasta, katakanlah di BUMN apalagi BUMN perminyakan, gaji PNS nggak ada apa-apanya.

Kalau kamu berpikir tidak masalah dengan gaji PNS, kemudian bakal meluangkan waktu untuk mencari tambahan penghasilan lain, itu tidak masalah. Namun yakinkan kalau ‘mencari tambahan’ itu tak mengganggu pekerjaan dan tidak korupsi waktu.

Sebab ada banyak orang yang menaruh curiga ketika seorang PNS kaya. Sebabnya jelas, ia sering tak punya waktu mengurus bisnis, dan mencari penghasilan tambahan yang membuatnya jadi kaya. Apalagi PNS adalah penyelenggara negara yang sangat potensial sekali menjerumuskan seseorang pada kasus pidana korupsi.

PNS bukanlah pekerjaan santai dan fleksibel.

Hajat hidup masyarakat digantungkan pada kinerja PNS. via MetroTV

Masih beranggapan kalau jadi PNS itu bisa nyantai? Kalau belum pernah merasakan sakit hatinya mengurus dokumen kependudukan, surat ijin, atau apa saja yang berkaitan dengan pelayanan, sebab mendapati para PNS hanya main ponsel saat ada masyarakat yang butuh dilayani, silakan beranggapan seperti itu.

Sebab anggapan semacam itu hanyalah menguatkan mata rantai yang selama ini sudah melingkar di sebagian benak oknum PNS. Mungkin mereka khilaf, atau memang mereka sedang sakit dan butuh tenaga untuk melayani masyarakat, tapi semestinya ingatlah sumpah jabatan di atas. Bahwa menjadi PNS akan selalu bersemangat untuk mengabdi kepada negara. Dan bersemangat mengabdi bukan dengan bekerja secara santai.

Sulitnya jenjang karir di PNS.

Jenjang kepangkatan PNS memakan waktu yang cukup lama. via Rutan Jeneponto

Ada yang pernah memikirkan mengapa jabatan kepala dinas dipegang oleh mereka yang bakal pensiun? Ya usia 60-an keatas. Hal itu disebabkan betapa sulitnya jenjang karir di PNS. Untunglah aturan BKN yang sekarang akan menaikkan pangkat PNS secara otomatis setiap 4 tahun sekali.

Nah, bayangkan jika seseorang baru diangkat PNS di usia ideal 25 tahun setelah ia lulus dari universitas dan menempati pangkat Pengatur Muda golongan II ruang A. Maka untuk mencapai tingkat agar bisa menjabat kepala dinas, ia mesti melompati setidaknya 10 pangkat. Nah hitung saja jika setiap pangkat butuh waktu 4 tahun. Ia bakal berumur 65 tahun ketika memiliki pangkat Pembina Utama Muda.

Silakan bandingkan dengan perusahaan-perusahaan multinasional, terutama startup, yang top leader-nya baru berusia 30-an tahun. Itu karena pada perusahaan tersebut, jenjang karirnya sangat terbuka dan dinamis. Apabila seseorang berprestasi, bisa jadi ia bakal melompat melampaui rekan kerjanya yang lebih senior. Hal yang tak terjadi di dunia PNS.

Keempat hal diatas memang fakta yang terjadi pada dunia PNS, sebuah dunia yang bakal kamu masuki seumur hidup kalau lolos tesnya. Namun semuanya tentu tergantung kepada kamu dalam menjalani profesi tersebut. Sebab setiap profesi akan dikembalikan pada orangnya, apakah itu memang passion-nya atau hanya keterpaksaan karena dipaksa orang lain, misalnya orang tua dan saudara.

Yang patut dipertanyakan adalah hati kamu sendiri, kejujuran yang bersemayam di sana mesti diketuk. Tanyakan pada hati itu, apakah dengan ikut mengirimkan lamaran itu merupakan sebuah panggilan jiwa mengabdi pada negara, atau cuma ikut-ikutan trend belaka? Jika yang terakhir, urungkan saja, sebab mengelola negara ini harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan dedikasi yang tinggi.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Sosial

Leave a Reply

Check Also

Beras Sehat Asli Indramayu Ini Hilangkan Was-Was Soal Beras Palsu

Sekenyang apapun makanmu, niscaya tak akan lengkap rasanya jika belum memakan nasi. Begitu…