Home Travel Melihat 14 Gambar Ini, Kamu Akan Bersyukur Dengan Rumah Sendiri

Melihat 14 Gambar Ini, Kamu Akan Bersyukur Dengan Rumah Sendiri

5 min read
0
0

Kalau disebut tempat tinggal, maka bayangan setiap orang tentu sebuah tempat untuk beristirahat dengan beragam ruangan yang berfungsi macam-macam. Namun apa jadinya jika sebuah tempat tinggal hanyalah sebuah bilik kecil yang hanya cukup untuk tidur semata?

Mungkin terlalu berlebihan seandainya ada tempat tinggal yang hanya cukup untuk tidur saja. Tapi kalau menyebut gelandangan, sepertinya tidak berlebihan, sebab cuma gerobak sampah atau kotak kardus yang bisa mereka gunakan untuk tidur. Mereka tak punya akses terhadap sumber ekonomi yang bagus sehingga pilihan-pilihan terhadap tempat tinggal nyaris tak ada.

Namun bagaimana jika kelas ekonomi di atas mereka bahkan ikut-ikutan tinggal di tempat yang bak peti mati?

Faktanya hal ini terjadi di Hongkong. Sebuah tempat yang sebenarnya tak layak dijadikan tempat tinggal, sebab terlampau sempit, justru didiami oleh seseorang setiap harinya. Dengan ruangan yang mungkin seluas tempat tidur kamu, justru dijadikan ruangan multifungsi. Maksudnya di ruangan itulah seseorang tidur, makan, memasak, hingga (maaf) buang air.

Dan daya tarik ekonomi Hongkong menjadikan banyak orang datang mengadu nasib, namun bertemu dengan sewa tempat tinggal yang luar biasa mahal. Alhasil orang-orang semacam tadi hanya bisa menempati bilik tidur yang disulap menjadi tempat tinggal. Society for Community Organisation mencatat ada 200.000 orang yang hanya punya alternatif tempat tinggal semacam itu saja.

Benny Lam, pegiat komunitas tersebut, menceritakan kisah penelusurannya sebagaimana dikutip National Geographic belum lama ini. Ia mengungkapkan kalau ratusan ribu orang di Hongkong tersebut merupakan ornag-orang yang menggerakkan roda perekonomian negeri yang ‘diakuisisi’ oleh China ini setiap harinya. Mereka adalah pelayan restoran, tukang parkir, satpam, pengantar paket maupun celaning service.

“Mereka adalah bagian dari kehidupan kita. Seharusnya kita lebih peduli,” ungkap Benny Lam.

Tempat tinggal yang disebut sebagai ‘coffin cubicles‘ ini bahkan bukan disewakan secara gratis. Mereka mesti membayar HK$2,000 atau setara dengan Rp.3,4 juta rupiah. Mau tahu seperti apa rumah yang sebenarnya lebih mirip peti mati ini? Simak gambar-gambar di bawah ini:

Untuk berdiri pun susah…

Kaki harus ditekuk untuk memberi ruang pada sarana hiburan.

Jangan berdiri, sebab benda-benda diatas bakal jatuh menimpa.

Lupakan tidur berbagai posisi.

Tak usah membayangkan betapa pengapnya.

Kamu sanggup tidur nyenyak di tempat semrawut ini? Mereka bisa.

Hanya kipas yang sanggup menyejukkan pengapnya tempat ini.

Antara kreatif dan tak punya pilihan memang beda tipis.

Hebatnya, mereka masih menyempatkan baca buku.

Lagi, hanya televisi yang bisa menghibur kesendirian.

Dimana dapur, dimana tempat tidur, sudah tak ada beda.

Ini gudang?

Kadang, adakalanya sakit.

Tapi hidup harus terus berjalan.

 

Begitulah kondisi hidup sebagian warga di Hongkong yang terkenal dengan kotanya yang gemerlap. Sisi kelam ini memang pemandangan yang tak bakal ditemui di film-film Hongkong manapun. Sebab mereka ‘hanya’ orang terbuang yang dianggap pelengkap di perputaran ekonomi raksasa Hongkong.

Saatnya kita menghargai mereka. Mungkin mereka pun tak butuh uluran tangan kita. Tapi paling tidak, kita bisa mensyukuri tempat tinggal yang sekarang.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Travel

Leave a Reply

Check Also

Beras Sehat Asli Indramayu Ini Hilangkan Was-Was Soal Beras Palsu

Sekenyang apapun makanmu, niscaya tak akan lengkap rasanya jika belum memakan nasi. Begitu…