Home Psikologi Menerima Diri Apa Adanya, Adalah Syarat Untuk Jadi Dewasa

Menerima Diri Apa Adanya, Adalah Syarat Untuk Jadi Dewasa

7 min read
0
0
Sungguh mudah berkata 'jangan pedulikan orang lain'. Sebab pada kenyataannya, apa yang orang lain pikirkan itu senantiasa terngiang-ngiang di telinga. Prasangka terhadap pikiran orang lain, akan selalu menjadi beban dari segala yang kita lakukan. Lalu bagaimana melepaskannya? Secara alami, sifat manusia adalah ingin membuat orang lain tertarik. Orang yang ingin bekerja di sebuah kantor, tentu akan membuat pimpinan kantor atau setidaknya bagian personalianya tertarik pada kita. Orang yang ingin mendapatkan nilai bagus di sekolah, bakal sebisa mungkin membuat pirbadi kita menarik di mata guru. Dan tentu saja jika dikaitkan dengan urusan asmara, akan sebisa mungkin menarik perhatian dari orang yang kita cinta. Lalu ketika muncul kalimat 'jadilah diri sendiri, jangan pedulikan orang lain' adalah sebuah ekspresi ketika upaya menjadi tertarik ini sudah melebihi batas. Batas dimana semestinya apa yang kita lakukan masih dalam batas kewajaran. Sebuah batas yang menjaga etika hubungan antar manusia. Sebab ada banyak orang yang dalam segala lakunya senantiasa mempunyai pikiran: "Apa yang orang lain pikirkan tentang saya?" Perasaan yang terus memikirkan penerimaan orang lain terhadap laku kita memang hal yang wajar. Sebab menjadi tanda masih adanya malu dalam diri kita. Namun telah disinggung, pemikiran atas pikiran orang lain ini harus dibatasi. Dan kita perlu memulainya dari asal-usulnya. Sikap Semacam Ini Telah Ada Sejak Kecil, dan Hanya Tumbuh Apabila Dipelihara Memikirkan apa yang orang lain pikirkan terhadap kita dimulai sejak kecil. Ya, dimana pada masa itu tubuh mungil kita butuh perhatian dari siapapun termasuk orang tua. Boleh jadi, kita adalah pribadi yang manja. Dimana segala sesuatunya wajib dibantu oleh orang tua. Kalau orang tua kita luput memerhatikan kita, dengan segala cara kita pun merajuk sambil menangis untuk mendapatkan perhatian itu kembali. Nah, siapa sangka sikap manja ini akan terbawa sampai nanti. Kecuali kita mampu menanganinya sendiri. Sebab kita terus tumbuh dewasa, ada nilai dan tata aturan yang senantiasa membersamainya. Penilaian-penilaian yang ada sudah objektif. Kita mesti memahami kalau untuk mencapai sesuatu tak bisa lagi dengan cara merajuk apalagi menangis diiringi rengekan yang kekanak-kanakkan. Semuanya mesti dilewati dengan sikap yang profesional dan tata cara yang mesti dilakoni sendiri. Jika kita gagal melakoninya, ada saatnya kegagalan dalam menjalani hidup berupa terus-menerus memikirkan apa yang dipikirkan orang lain terhadap kita akan selamanya membekas. Kita tidak percaya dengan kemampuan sendiri, sebab sudah terbiasa dibantu sedemikian rupa oleh orang-orang dekat. Pada Kenyataannya, Tak Ada Yang Betul-Betul Tahu Apa yang Orang Lain Pikirkan Jika ada diantara kamu belum pernah menyusun skripsi, mungkin boleh bertanya-tanya dulu pada abangmu, pamanmu, atau tetanggamu. Tanyakanlah tentang sikap dosen pembimbingnya. Sebab terkadang selera dosen sangat menentukan hasil revisi skripsi. Misalnya pekan pertama di bagian pertama ada revisi, katakanlah A. Hasil revisi A ini diminta untuk diubah menjadi B. Namun pekan kemudian setelah B ini disodorkan kembali, dosen malah meminta A. Dan jika kamu punya pemikiran tentang 'apa yang orang lain pikirkan' melewati batas, tentu bakal emosi tingkat tinggi menghadapi hal semacam ini. Namun begitulah fenomena sesungguhnya. Sebab pikiran orang itu sama rumitnya dengan pikiran kita. Untuk itulah setiap komunitas masyarakat punya aturan-aturan sendiri, agar setiap isi kepala bisa tunduk dan patuh terhadap hasil konsensus yang ada. Tanpa hasil konsensus, niscaya keruwetan pikiran akan selalu menjadi hantu yang sulit diberantas. Pada Akhirnya Menjadi Diri Sendiri Adalah Nasehat Terbaik Ada sebuah frase untuk memulai bagian ini, sekaligus mungkin bisa menjadi penutup dari artikel ini. Frase tersebut adalah 'kamu harus mencintai dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain'. Dan kabar baiknya, frase ini sangat tepat untuk memulai langkah agar hidup tak lagi dibebani oleh prasangka terhadap orang lain. Sebab kalau kulit kita sudah hitam, maka beli saja pakaian yang cocok dan sandang lain yang sekiranya serasi. Sebab ketika memaksakan diri menjadi kuning langsat, demi memenuhi pikiran sebagian orang yang biasanya juga tak diungkapkan, akan banyak pengorbanan yang selalu tak sesuai dengan yang kita harapkan. Kita adalah manusia yang unik. Tak perlu menjadi orang lain, memikirkan apa yang akan dipikirkan orang lain tentang kita, sebab ketika kita menerima diri sendiri, orang lain pun tak akan keberatan untuk menerima kita apa adanya. Coba saja.

Sungguh mudah berkata ‘jangan pedulikan orang lain’. Sebab pada kenyataannya, apa yang orang lain pikirkan itu senantiasa terngiang-ngiang di telinga. Prasangka terhadap pikiran orang lain, akan selalu menjadi beban dari segala yang kita lakukan. Lalu bagaimana melepaskannya?

Secara alami, sifat manusia adalah ingin membuat orang lain tertarik. Orang yang ingin bekerja di sebuah kantor, tentu akan membuat pimpinan kantor atau setidaknya bagian personalianya tertarik pada kita. Orang yang ingin mendapatkan nilai bagus di sekolah, bakal sebisa mungkin membuat pirbadi kita menarik di mata guru. Dan tentu saja jika dikaitkan dengan urusan asmara, akan sebisa mungkin menarik perhatian dari orang yang kita cinta.

Lalu ketika muncul kalimat ‘jadilah diri sendiri, jangan pedulikan orang lain’ adalah sebuah ekspresi ketika upaya menjadi tertarik ini sudah melebihi batas. Batas dimana semestinya apa yang kita lakukan masih dalam batas kewajaran. Sebuah batas yang menjaga etika hubungan antar manusia. Sebab ada banyak orang yang dalam segala lakunya senantiasa mempunyai pikiran: “Apa yang orang lain pikirkan tentang saya?”

Perasaan yang terus memikirkan penerimaan orang lain terhadap laku kita memang hal yang wajar. Sebab menjadi tanda masih adanya malu dalam diri kita. Namun telah disinggung, pemikiran atas pikiran orang lain ini harus dibatasi. Dan kita perlu memulainya dari asal-usulnya.

Sikap Semacam Ini Telah Ada Sejak Kecil, dan Hanya Tumbuh Apabila Dipelihara

Memikirkan apa yang orang lain pikirkan terhadap kita dimulai sejak kecil. Ya, dimana pada masa itu tubuh mungil kita butuh perhatian dari siapapun termasuk orang tua. Boleh jadi, kita adalah pribadi yang manja. Dimana segala sesuatunya wajib dibantu oleh orang tua. Kalau orang tua kita luput memerhatikan kita, dengan segala cara kita pun merajuk sambil menangis untuk mendapatkan perhatian itu kembali.

Nah, siapa sangka sikap manja ini akan terbawa sampai nanti. Kecuali kita mampu menanganinya sendiri. Sebab kita terus tumbuh dewasa, ada nilai dan tata aturan yang senantiasa membersamainya. Penilaian-penilaian yang ada sudah objektif. Kita mesti memahami kalau untuk mencapai sesuatu tak bisa lagi dengan cara merajuk apalagi menangis diiringi rengekan yang kekanak-kanakkan. Semuanya mesti dilewati dengan sikap yang profesional dan tata cara yang mesti dilakoni sendiri.

Jika kita gagal melakoninya, ada saatnya kegagalan dalam menjalani hidup berupa terus-menerus memikirkan apa yang dipikirkan orang lain terhadap kita akan selamanya membekas. Kita tidak percaya dengan kemampuan sendiri, sebab sudah terbiasa dibantu sedemikian rupa oleh orang-orang dekat.

Pada Kenyataannya, Tak Ada Yang Betul-Betul Tahu Apa yang Orang Lain Pikirkan

Jika ada diantara kamu belum pernah menyusun skripsi, mungkin boleh bertanya-tanya dulu pada abangmu, pamanmu, atau tetanggamu. Tanyakanlah tentang sikap dosen pembimbingnya. Sebab terkadang selera dosen sangat menentukan hasil revisi skripsi. Misalnya pekan pertama di bagian pertama ada revisi, katakanlah A. Hasil revisi A ini diminta untuk diubah menjadi B. Namun pekan kemudian setelah B ini disodorkan kembali, dosen malah meminta A. Dan jika kamu punya pemikiran tentang ‘apa yang orang lain pikirkan’ melewati batas, tentu bakal emosi tingkat tinggi menghadapi hal semacam ini.

Namun begitulah fenomena sesungguhnya. Sebab pikiran orang itu sama rumitnya dengan pikiran kita. Untuk itulah setiap komunitas masyarakat punya aturan-aturan sendiri, agar setiap isi kepala bisa tunduk dan patuh terhadap hasil konsensus yang ada. Tanpa hasil konsensus, niscaya keruwetan pikiran akan selalu menjadi hantu yang sulit diberantas.

Pada Akhirnya, Menjadi Diri Sendiri Adalah Nasehat Terbaik

Ada sebuah frase untuk memulai bagian ini, sekaligus mungkin bisa menjadi penutup dari artikel ini. Frase tersebut adalah ‘kamu harus mencintai dirimu sendiri sebelum mencintai orang lain’. Dan kabar baiknya, frase ini sangat tepat untuk memulai langkah agar hidup tak lagi dibebani oleh prasangka terhadap orang lain.

Sebab kalau kulit kita sudah hitam, maka beli saja pakaian yang cocok dan sandang lain yang sekiranya serasi. Sebab ketika memaksakan diri menjadi kuning langsat, demi memenuhi pikiran sebagian orang yang biasanya juga tak diungkapkan, akan banyak pengorbanan yang selalu tak sesuai dengan yang kita harapkan.

Kita adalah manusia yang unik. Tak perlu menjadi orang lain, memikirkan apa yang akan dipikirkan orang lain tentang kita, sebab ketika kita menerima diri sendiri, orang lain pun tak akan keberatan untuk menerima kita apa adanya. Coba saja.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Psikologi

Leave a Reply

Check Also

Empat Hal Yang Mesti Dipertimbangakan Sebelum Ikut Tes CPNS

Tahun 2017, 61 instansi pemerintahan membuka lowongan pekerjaan. Tentu bukan sembarang low…