Home Sosial Pelajaran Berharga dari First Travel, Jangan Maunya Instan dan Meraup Untung Dengan Serakah!

Pelajaran Berharga dari First Travel, Jangan Maunya Instan dan Meraup Untung Dengan Serakah!

10 min read
0
0
first travel

Siapa tak mau hidupnya bergelimang kemewahan dan berjalan menyenangkan. Mau rumah bagus tinggal beli, mau keliling dunia bisa dilakukan dengan mudah, bahkan punya baju-baju bagus tinggal ambil. Lha wong butiknya punya sendiri kog. Bahkan mau beribadah umrah setiap bulan pun bisa, ‘kan punya travel sendiri.

Setidaknya begitulah yang terjadi dengan Anniesa Desvitasari Hasibuan serta Andika Surachman. Foto-foto Instagram-nya memaksa banyak orang untuk menarik liur dengan seringnya. Sebab selaku pemilik biro jasa perjalanan, tak sulit bagi mereka untuk sekedar berfoto di depan Ka’bah dengan seringnya. Apalagi hanya memamerkan koleksi busana terbarunya di depan kokohnya menara Eiffel. Segalanya mudah dan terlihat sangat menyenangkan. Hingga pada akhirnya, waktu membuka tabir siapa mereka sebenarnya.

Ya, pasangan suami-istri ini sedang menjadi buah bibir belakangan ini. PT First Anugerah Karya Wisata atau First Travel, biro jasa perjalanan yang mereka dirikan tersandung kasus yang melibatkan banyak orang. Calon jamaah umrah yang sedianya bisa berangkat sejak setahun silam, harus datang marah-marah demi menagih haknya yang terbengkalai. Hingga saat ini, menurut data dari Tim Crisis Center untuk masalah ini, ada 400 lebih pihak yang mengadu.

Jika dilakukan kalkulasi rata-rata, yakni setiap orang menyetor sebesar Rp14,3 juta, maka jumlah nominal yang dirugikan sebesar Rp5,72 miliar. Jumlah tersebut tentu jumlah yang paling minimal, sebab ada yang diminta untuk menambah biaya lagi agar bisa berangkat. Hingga saat ini, masih banyak orang yang mengaku menjadi korban First Travel dan sedang didata oleh Crisis Center. Tim Crisis Center ini merupakan gabungan dari Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Agama.

Memudah-mudahkan berhutang, bisa menjebloskan siapapun ke jurang terdalam.

first travel
Seorang calon jamaah umroh memperlihatkan kwitansi pelunasannya. via Jawa Pos

Ratusan orang korban yang mengaku jadi korban First Travel ini sepertinya belum seberapa. Sebab jika dikalkulasi, jumlahnya belum sefantastis hutang First Travel kepada biro jasa dan hotel di Arab Saudi. Hotel di Mekkah dan Madinah sudah berupaya menagih hutang ke First Travel, sebab kurun waktu 2015 hingga 2017 ada tunggakan penginapan sebesar Rp24 miliar yang belum dibayar.

Jumlah itu bahkan masih terbilang kecil, sebab menurut Mabes Polri, ada individu yang mengaku punya piutang kepada First Travel senilai Rp80 miliar. Kalau dijumlahkan, First Travel punya sangkutan hutang Rp100 miliar lebih.

Hutang boleh-boleh saja selama ada komitmen untuk membayar dan punya cadangan harta dan upaya untuk melunasinya. Sehingga hutang yang dimiliki tidak merugikan orang lain. Bisa jadi ada banyak orang yang ingin umrah, kemudian menabung sedikit demi sedikit dari hasil keringatnya. Sebab buat banyak orang, meski tergolong murah, uang setoran umrah Rp14,3 juta itu terbilang cukup besar.

Cari untung tak pernah dilarang, tapi mesti bertahap dan hindari jalan instan!

first travel
Banyak orang terdzalimi akibat salah kelola dan rakus mengeruk laba. via Detik.com

Namanya berjualan, baik barang maupun jasa, sewajarnya memang mencari untung. Tapi mencari untung sewajarnya memang mesti dilakukan dengan cara yang wajar pula. Dan sepertinya ini diduga tak berlaku buat First Travel. Terlebih ada pengakuan kalau sebagian dana konsumen masuk ke sistem Pandawa.

Buat yang belum tahu, Pandawa merupakan koperasi yang didakwa menjalankan money game. Dengan imbalan 10 % buat siapapun yang menaruh uangnya di koperasi tersebut, First Travel kemungkinan ikut tergiur. Sayangnya, alih-alih laba hasil jasa bironya, First Travel malah memakai uang konsumen.

Rencana First Travel mungkin manis, sebab dengan menaruh uang di Pandawa, mereka mendapatkan untung sebesar 10 persen. Hal ini memungkinkan First Travel mendapatkan dua keuntungan, pertama untung dari bagi hasil di Pandawa, dan keuntungan kedua yang diperoleh dari semakin banyaknya konsumen yang ikut program umrah murah di First Travel.

Namun untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Pandawa kolaps dan pimpinannya diganjar penjara serta menyisakan derita pada nasabahnya, termasuk First Travel. Kalau uang sendiri, maka korban Pandawa mungkin hanya gigit jari. Tapi tak begitu dengan First Travel. Alih-alih mendapatkan keuntungan dari bagi hasil, kini ratusan konsumen itu pun menyerbu kantornya dan melaporkan hingga suami istri pemiliknya harus berurusan dengan hukum.

Dalam bisnis, terlalu cepat menikmati hasil itu jebakan mematikan.

first travel
Menikmati hasil jerih payah sendiri itu tak pernah dilarang, tapi kalau menikmati tetes keringat orang lain tanpa sah? via Tribunnews.com

Ada yang bilang, berbisnis itu jauh lebih enak daripada menjadi karyawan. Orang yang bilang seperti ini mungkin belum pernah tahu pahit-getirnya menjadi pengusaha. Sebab jika dibandingkan dengan karyawan, yang datang, pulang, dan akhir bulan terima gaji, menjadi pengusaha banyak suka-dukanya.

Silakan simak almarhum Bob Sadino yang memulai usahanya dari jualan telur dan sayuran. Dari bawah ia merangkak, panas terik hujan badai kita lalui bersama ia lewati. Dan kini meski telah meninggal, pelajaran hidupnya sebagai pengusaha telah menginspirasi banyak orang, terutama soal bagaimana kerasnya hidup meniti jalan bisnis.

Para pengusaha, ketika ia mendapatkan laba, maka disimpannya untuk digunakan sebagai tabungan yang kelak dipergunakan menambah cabang usahanya maupun modal bergeraknya. Uangnya terus berputar untuk sesuatu yang bisa membuat besar usahanya. Terus seperti itu, hingga seolah tak ada waktu baginya berlibur dan menghabiskan waktu mengisi foto di Instagram. Ia bersabar, hingga roda usahanya bergerak optimal tanpa menyisakan kredit macet maupun komplain dari konsumen.

Segalanya memerlukan kesabaran.

first travel
Siapa yang tak mau pergi ke Paris? Tapi siapa yang sabar mesti mengumpulkan recehan? via Tribunnews.com

Siapa yang tak mau pergi berlibur ke Eropa, menikmati hangatnya teh di tepi selat Bosphorus, serta memetik kurma di Madinah. Juga menikmati kehangatan di rumah mewah yang berlantai granit dan bertembok pualam. Sesungguhnya hal-hal itu memang diimpikan banyak orang. Sayangnya, meski tak menggunakan seluruh pendapatannya selama sekian waktu, banyak orang tak mendapat kesempatan seperti itu.

Namun ada orang yang terburu nafsu, ingin menikmati kemewahan dengan cara kilat. Mungkin kamu berpikir First Travel juga melakukannya? Entahlah, mungkin kamu bisa bertanya kepada ratusan calon jamaah umrah yang batal berangkat itu. Yang jelas, apapun kita saat ini maka menetapi kesabaran adalah kunci, dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan dalam kesabaran itu adalah rumah hangat yang sewajibnya kita tak diperbolehkan kemana-mana.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Sosial

Leave a Reply

Check Also

Beras Sehat Asli Indramayu Ini Hilangkan Was-Was Soal Beras Palsu

Sekenyang apapun makanmu, niscaya tak akan lengkap rasanya jika belum memakan nasi. Begitu…