Home Psikologi Percuma Punya Bakat Hebat, Jika Masih Melakukan 3 Kebiasaan Ini

Percuma Punya Bakat Hebat, Jika Masih Melakukan 3 Kebiasaan Ini

8 min read
0
0
aktualisasi diri

Semua orang terlahir dengan kehebatannya masing-masing. Sebab setiap bayi yang lahir menyimpan potensi untuk jadi penerus Mark Zuckerberg, Bill Gates, Elon Musk, Sundar Pichay, Christiano Ronaldo, dan orang-orang hebat yang lain. Namun faktor-faktor tertentu membuatnya hanya jadi manusia rata-rata. Dan salah satu sebabnya adalah mereka punya kebiasaan buruk yang membuat bakat dan potensi untuk menjadi hebat secara pelan-pelan menghilang tanpa jejak.

Orang-orang hebat, para teknokrat di bidang teknologi, pemenang olimpiade Matematika, para juara di bidang olahraga, selalu punya kebiasaan harian yang membuatnya bisa menjadi orang yang terbilang sukses. Mereka mampu mencapai karir yang tak banyak orang bisa mencapainya. Sebab mereka sudah melakukan apa yang kebanyakan orang tidak melakukannya, yakni kebiasaan dan sikap sehari-hari yang menjaga mereka untuk tetap pada jalur prestasinya.

Perilaku menjaga kebiasaan dan sikap sehari-hari ini teramat penting, sebab banyak orang yang sebenarnya punya bakat dan potensi yang hebat ternyata hilang tanpa jejak. Dan menurut penjabaran teorinya Abraham Maslow, orang-orang semacam ini gagal dalam mencapai aktualisasi dirinya, sebab ada begitu banyak tahapan dalam ‘piramida Maslow’ yang tidak dilakukannya. Lalu apa sajakah perilaku yang bisa membuat seseorang yang punya bakat hebat menjadi manusia rata-rata?

Lebih mementingkan orang lain dibanding rencana sendiri yang sudah tersusun dengan rapi

Salah satu yang bisa membuat seseorang bisa terfokus belajar, membaca, serta melakukan kegiatan positif lainnya adalah berolahraga. Sebab dengan memiliki tubuh yang fit, konsentrasi pun terjaga dengan baik. Dan inilah yang mesti dijadwalkan dengan baik.

Nah, satu ketika jadwal itu akan kamu laksanakan, tapi tiba-tiba temanmu menelepon dan memintamu membantunya di rumahnya. Mungkin terdengar penting, tapi apakah segenting itu sehingga kamu membatalkan jadwal yang sudah tersusun dengan rapi? Dan pastinya, kalau satu jadwal bisa dilanggar, kedisiplinan akan tercerai.

Dan kalau kamu tetap memenuhi ajakan teman kamu, itu berarti kamu pun tidak bisa menghargai waktu kamu sendiri. Memang penting untuk hadir ketika teman membutuhkan, tapi tidak dengan mengabaikan kepentingan kamu sendiri yang sudah dijadwalkan dengan baik.

Ada beberapa alasan mengapa kamu lebih mementingkan teman dibanding kepentingan sendiri. Ini beberapa diantaranya: kamu takut orang lain akan berhenti menyukai kamu, kamu merasa bersalah, kamu nggak nyaman berjalan sendiri, kamu tidak menghargai waktu yang telah diatur, kepentingan orang lain diatas kepentingan kamu.

Sikap semacam ini akan menjauhkan kamu dari kebutuhan untuk pengembangan diri. Sebab untuk berkembang, kamu memerlukan pengaturan waktu yang bagus, terjadwal, dan kepentingan diri sendiri yang terus dijaga. Sekali-kali pergi keluar bersama teman boleh-boleh saja, tapi tetap tak boleh mengalahkan segala sesuatu yang sudah kamu jadwalkan dengan baik.

Takut salah bicara

Memang ada sabda dari Nabi Muhammad bahwa seseorang mesti berkata yang baik atau diam saja. Tapi percayalah, takut salah bicara bukan tergolong larangan berbicara oleh Nabi ini. Sebab semua orang mesti mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, tanpa merasa takut, risih dan khawatir dikritisi.

Seringkali setelah berbicara, kita bertanya-tanya, “Sepertinya pembicaraan saya tadi terkesan bodoh” “Apa yang teman-teman pikirkan tentang perkataan saya tadi?” “Mungkin lain kali saya lebih baik diam saja.”

Kekhawatiran salah bicara memang lumrah terjadi ketika kita berbicara di depan publik. Ketika kamu berbicara terlampau jujur, mungkin saja ada temanmu yang tersinggung. Sehingga kamu sering diam. Pada batas khawatir tersinggung tidak apa-apa, namun biasanya hal ini pun terbawa juga ketika sedang sendirian. Ketika kamu terbiasa diam dan takut berkata jujur, bahkan pada diri sendiri pun kamu bisa kesulitan untuk menilai.

Urutan ini seolah-olah sudah baku, kamu yang takut salah bicara atau menyensor diri sendiri secara berlebihan akan kesulitan menilai diri secara jujur. Sehingga kamu pun bakal mengalami kegagalan dalam mengevaluasi pengembangan diri yang sudah dilakukan. Untunglah ada cara untuk mengatasinya, yakni dengan menulis di buku harian, blog, atau media apapun saja. Sebab dengan menulis, seseorang biasanya bisa lebih jujur mengungkapkan isi hatinya.

Berupaya mencocokkan diri dengan orang lain

Puncak dari piramida Maslow adalah aktualisasi diri. Untuk mencapainya tentu saja kamu mesti mengenal diri kamu baik-baik lewat serangkaian proses yang cukup berat. Salah satu proses yang membuat pencapaian itu gagal adalah kamu berupaya mencocokkan diri dengan orang lain.

Untuk itulah memiliki sikap teguh dengan pendirian, meski apapun yang dipikirkan dan dikatakan orang lain harus dipegang baik-baik. Berikut ini tips yang bisa kamu lakukan agar keinginan untuk mencocokkan diri dengan orang lain hilang.

– Tujuan hidup kamu jelas.
– Pikirkan dulu sebelum melakukan sesuatu, kalau dirasa buruk jangan dilakukan.
– Jangan menyerah dalam mewujudkan mimpi.
– Buatlah lingkungan yang nyaman dan mendukung.
– Lupakan keinginan agar banyak orang suka dengan kamu.

Berat, ya? Tapi menghindari tiga sikap diatas, akan menghantarkanmu semakin dekat dengan proses aktualisasi diri. Ya, puncak kebutuhan hidup manusia, dimana kebutuhan fisik, emosi, dan kebutuhan remeh-temeh lainnya telah berhasil diatasi dengan baik.

Load More Related Articles
Load More By BesokLusa
Load More In Psikologi

Leave a Reply

Check Also

Empat Hal Yang Mesti Dipertimbangakan Sebelum Ikut Tes CPNS

Tahun 2017, 61 instansi pemerintahan membuka lowongan pekerjaan. Tentu bukan sembarang low…